Selasa, 09 Maret 2021

Pembinaan Ketahanan Keluarga berbasis BKB

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Salatiga menghadiri acara Pembinaan Ketahanan Keluarga Berbasis Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) di Kampung KB Kota Salatiga Tahun 2021. Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Pelindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Salatiga di Aula Kantor Kecamatan Sidomukti, dihadiri oleh 80 orang Kader BKB dari 5 Kampung KB di Kota Salatiga, pada 

Alasan mengapa Bina Keluarga Balita (BKB) penting :

Kualitas SDM  ditentukan oleh kualitas pembinaan keluarga sejak dini, ingat “1000 Hari Pertama Kehidupan.

Tumbuh kembang anak dapat optimal melalui interaksi orangtua dan anak secara efektif. 

Masa balita khususnya usia 0-3 th adalah masa keemasan atau golden period.

Apabila “masa emas dilewatkan”, Balita akan mengalami keterlambatan dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal, yang saat ini dikenal dengan istilah “stunting” atau gagal tumbuh.

Ibu Balita harus ber-KB, agar anak SEHAT

Jadilah “Orang Tua Hebat”

Peran PKK dan kader Bina Keluarga Balita , dirasakan semakin penting/strategis dalam menjalankan program  Pembangunan Keluarga  di lingkungan pertama dan utama yaitu keluarga.  Oleh karena itu pengetahuan, ketrampilan dan kemampuannya perlu ditingkatkan dengan kegiatan pembinaan “Kader Bina Keluarga Balita“ agar para Kader/pengelola lebih memahami berbagai tugas fungsinya dalam mendukung program Pembangunan Keluarga.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga Allah SWT,  senantiasa meridhoi usaha kita sehingga kegiatan yang dilaksanakan pada hari ini dapat berjalan dengan lancar dan bermanfaat  dalam rangka pengabdian kita membangun masyarakat Kota Salatiga yang sehat, mandiri dan sejahtera.


Selasa, 9 Maret 2021.

Selasa, 26 Januari 2021

PRESIDEN JOKOWI TUNJUK BKKBN KETUAI PROGRAM PERCEPATAN PENANGANAN ‘STUNTING’

Penanganan stunting di Indonesia akan dilakukan dalam kerangka pembangunan keluarga secara integral

Presiden Joko Widodo menunjuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai badan yang bertanggung jawab dan mengetuai pelaksanaan percepatan penurunan angka stunting (kekerdilan pada anak) di Indonesia. Hingga tahun 2024 mendatang, penurunan angka tersebut ditargetkan untuk turun hingga 14 persen dari angka yang sebesar 27,6 persen di tahun 2019 lalu.

“Hari ini Bapak Presiden memberikan amanah kepada BKKBN dalam bentuk perintah agar menjadi Ketua Pelaksana untuk percepatan penurunan stunting. Saya sebagai Kepala BKKBN tentu menerima amanah ini dengan niat dan tekad yang kuat,” ujar Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam keterangannya di Kantor Presiden, Jakarta, pada Senin, 25 Januari 2021, selepas rapat terbatas bersama Presiden dan jajaran terkait.

Selama ini, penurunan angka stunting di Indonesia masih berada pada angka 1,6 persen per tahunnya. Melalui penugasan tersebut, Presiden memiliki target bahwa setidaknya dalam tiap tahun angka stunting di Indonesia dapat diturunkan hingga 2,7 persen.

Sejumlah langkah luar biasa segera dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, dalam kesempatan yang sama menjelaskan, penanganan stunting di Indonesia akan mengacu pada Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sebagai landasan hukum pelaksanaan.

“Artinya bahwa penurunan angka stunting ini basisnya adalah dalam upaya untuk membangun keluarga sehingga pembangunan keluarga tidak hanya sebatas pembatasan atau penjarangan angka kelahiran, tetapi betul-betul pembangunan keluarga yang integral. Salah satunya adalah penurunan angka stunting,” ucapnya.

Pemerintah menaruh perhatian besar bagi upaya pengurangan angka stunting ini. Sebab, hal tersebut dapat memengaruhi kualitas angkatan kerja Indonesia di masa mendatang.

BKKBN dalam menjalankan tugas ini akan dibantu oleh sejumlah kementerian yang memiliki perpanjangan tangan langsung hingga tingkat daerah dan akan segera menyusun langkah konkret, detail, serta terukur berdasarkan data pemetaan angka stunting yang telah ada.

“Bapak Presiden juga meminta supaya daerah-daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota yang angka stunting-nya masih tinggi betul-betul memiliki kesungguhan dalam upaya menangani stunting ini,” tandasnya.

(BPMI Setpres)

Sumber: presidenri.go.id

Rabu, 18 November 2020






    Dalam pemberdayaan Kader TRIBINA dan UPPKS di Kota Salatiga dalam rangka ikut berperan dan sebagai pelaksana langsung Program BANGGA KENCANA melalui kegiatan Kelompok BKB, BKR, BKL dan UPPKS demi terwujudnya keluarga yang bahagia dan sejahtera. Kegiatan ini bertujuan untuk

  1. Meningkatkan peran serta dan kepedulian institusi masyarakat melalui kelompok kegiatan TRIBINA dan UPPKS untuk menjadi pengelola dan pelaksana  Program Bangga Kencana yang mandiri dan dinamis. 
  2. eningkatkan wawasan, pengetahuan dalam rangka implementasi Program Bangga Kencana di Kota Salatiga serta sebagai sarana pertukaran informasi antar sesama Kader TRIBINA dan UPPKS di Kota Salatiga.
  3. Kader TRIBINA dan UPPKS diharapkan dapat berperan langsung dalam rangka meningkatkan capaian ber-KB di Kota Salatiga melalui penggunaan kontrasepsi MKJP bagi PUS di wilayah binaan masing-masing.

Peserta dari kegiatan ini adalah Kader TRIBINA dan UPPKS se Kota Salatiga yang berjumlah 75 orang yang tersebar di 4 Kecamatan dengan tema materi yaitu :

  1. Program Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Melalui UPPKS dengan narasumber dari Perwakilan BKKBN Prov. Jateng.
  2. Optimalisasi Program BANGGA KENCANA oleh Kabid KB, KKK pada DPPKB Kota Salatiga.
  3. Mewujudkan Keluarga Berkualitas dengan TRIBINA oleh Kasi. Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga pada DPPKB Kota Salatiga.
Kegiatan ini diharapkan para Kader TRIBINA dan UPPKS di Kota Salatiga dapat :
  1. Memberikan kontribusi secara nyata dalam keberhasilan program Bangga Kencana di Kota Salatiga, karena Kader TRIBINA dan  UPPKS adalah sebagai ujung tombak dan kepanjangan tangan dari pemerintah sekaligus mitra kerja demi keberhasilan program Bangga Kencana.
  2. Adanya pertukaran informasi antar sesama kader serta meningkatnya wawasan, pengetahuan dan ketrampilan Kader dalam mewujudkan Keluarga Kecil, Keluarga yang Berketahanan, Keluarga yang Berkarakter dan Keluarga yang Sejahtera

Minggu, 08 November 2020

PEMBINAAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUAGA MELALUI KELOMPOK UPPKS DI KOTA SALATIGA



Dalam membangun kualitas Sumber Daya Manusia yang ada di Kelompok UPPKS dalam rangka peningkatan dan pemberdayaan ekonomi keluarga serta menekan angka kemiskinan di Kota Salatiga. Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan inovasi Kader terhadap pelaksanaan Program Pemberdayaan Ekonomi Keluarga melalui kegiatan Kelompok UPPKS. Adanya intervensi dari Kelompok UPPKS dalam rangka menciptakan keluarga kecil bahagia dan sejahtera serta menekan angka kemiskinan di Kota Salatiga. Ikut berperan secara langsung dalam menciptakan ekonomi yang kuat dan stabil di Kota Salatiga.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan para Kader UPPKS dapat berperan serta dalam mewujudkan Program Bangga Kencana di Kota Salatiga melalui kegiatan Kelompok UPPKS. Meningkatkan kegiatan dan pengelolaan Kelompok UPPKS di Wilayahnya masing-masing. Adanya kerjasama antara Kelompok UPPKS dengan Lintas Sektor/OPD terkait di Kota Salatiga agar terdapat sinergitas dalam peningkatan usaha. Meningkatnya wawasan, pengetahuan, keterampilan dan inovasi bagi para Kader UPPKS  tentang Pemberdayaan Ekonomi berbasis keluarga.

SOSIALISASI PENANGANAN STUNTING

 




Bina Keluarga Balita (BKB) sebagai wadah kegiatan keluarga yang mempunyai anak balita (masa emas/golden age period) menjadi sangat penting dalam pembinaan tumbuh kembang balita. Ada tujuh (7) aspek perkembangan yang harus distimulasi dan dipantau dengan Kartu Kembang Anak (KKA). Kurangnya Stimulasi dapat menghambat dan mengganggu tumbuh kembang anak.


Berdasarkan data kesehatan (PSG 2017) Prevalensi Balita Stunting di Indonesia masih tinggi yaitu 29,6% (batasan WHO 20%). Sedangkan data stunting di Salatiga pada tahun 2019 adalah 10,8% yang artinya sekitar  1 dari 10 balita mengalami stunting. Sunting dapat dicegah melalui 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan memastikan kesehatan yang baik dan gizi yang cukup. Oleh karena itu Partisipasi masyarakat, kader dan mitra kerja dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak perlu ditingkatkan.

Salatiga, 6 November 2020